PEMBAGIAN WARISAN (FARAID 2) - MAJELIS AKHWAT BERCADAR

PEMBAGIAN WARISAN (FARAID 2)

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 


DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP MENURUT 4 MADZHAB (34)


PERTANYAAN:




(Di gambar SS )


JAWABAN:

1)Ustadz Abdullah Sidiq I   

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.


Berarti ini adalah kasus tentang wasiat yang berupa tulisan kepada ahli waris.

Wasiat yang paling kuat adalah berupa ungkapan, karena ungkapan adalah bentuk yang sharih. Sedangkan tulisan hanyalah bentuk kinayah saja , wasiat berupa tulisan harus ada saksinya atau pengakuan dari ahli waris lain.


Sehingga yang perlu di tinjau pada kasus diatas , apakah tulisan wasiat itu bentuk satu satunya atau hanya untuk penguat yang sebenarnya sudah ada wasiat berupa ucapan ?

Jika itu bentuk wasiat satu satunya,  apakah ada saksi atau pengakuan dari ahli waris?


Wasiat kepada ahli waris.

Ahli waris sebenarnya sudah dapat bagian warisan masing masing, ketika pemilik harta berwasiat kepada salah satu ahli waris , maka ini mengakibatkan merugikan ahli waris yang lain.

Sehingga dalam masalah ini,  wasiat tersebut haruslah atas persetujuan ahli waris yang lain.

Rasulullah bersabda: 


 إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ


Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi masing-masing orang haknya, maka tidak ada harta wasiat bagi ahli waris.'"

(HR Ibnu Majah nomor 2713)


Rasulullah bersabda:


لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ إِلَّا أَنْ يُجِيزَ الْوَرَثَةُ

Tidak boleh ada wasiat untuk ahli waris , kecuali para ahli waris membolehkan.

(HR Daruquthniy )


Untuk selanjutnya,  apakah wasiat semacam diatas  harus dilaksanakan?

Jawabannya adalah tergantung.

👉 Apabila wasiat tersebut sudah memenuhi syarat rukunnya , dan wasiat tersebut sudah sah , maka wajib dilaksanakan dan seluruh harta akan menjadi milik anak perempuan , istri dan ibunya mayit saja.


👉 Apabila wasiat tersebut tidak sah , maka harta seluruhnya akan menjadi warisan.


Bagian bagian ahli waris :

1. Untuk ibunya mayit.

Allah berfirman:


وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ

Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya 1/6 dari harta yang ditinggalkan , jika mayit mempunyai anak

(QS Annisa ayat 11)


2. Untuk istrinya mayit.

Allah berfirman:

فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ


Jika kamu para suami mempunyai anak, maka para isteri memperoleh 1/8 dari harta yang kamu tinggalkan

(Qs annisa ayat 12)


3. Untuk 2 anak perempuannya mayit.

Rasulullah bersabda :

  أَعْطِهِمَا الثُّلُثَيْنِ 

Berikan kepada 2 anak perempuannya mayit 2/3 bagian

(HR Abu Dawud nomor 2891)


Berdasarkan dalil dalil tersebut berarti pembagiannya adalah : 


Istri            = 1/8 = 9/72 bagian

2 anak pr = 2/3 = 48/72 bagian

Ibu             = 1/6 = 12/72 bagian

                Jumlah = 69/72 bagian

Sisa = 3/72  bagian.

Untuk siapa sisanya?


✅ 4. Untuk para saudaranya mayit.

Karena kedudukan saudara lelaki adalah sebagai ashabah , maka dia mendapatkan warisan sesisa sisanya.

 Allah berfirman:


وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ


Dan jika ahli waris itu terdiri dari saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian 1 orang saudara laki-laki sebanyak bagian 2 orang saudara perempuan. 

(Qs annisa ayat 176)

Dengan demikian berarti dari 3/72 itu untuk :

Saudara lelaki mayit             = 2/72 bagian

Saudara perempuan mayit = 1/72 bagian


Atau dengan kata lain , seluruh harta dibagi 72 bagian dulu. 

lalu ada yang mendapatkan 48 bagian , 12 bagian,  9 bagian , 2 bagian dan 1 bagian.


Atau jika ingin dihitung dengan prosentase, maka bagiannya adalah :


Istri              =  9/72  = 12,500 %

2 anak pr    = 48/72 = 66,666 %

Ibu               = 12/72 = 16,666 %

Saudara lk  =  2/72 =    2,777 %

Saudara pr =  1/72 =   1,388 %

          Total = 72 /72 = 99,997 % ~~ 100%


Lalu jika ditanyakan mana bagian cucu ?

Maka cucunya mayit tersebut tidak mendapatkan warisan karena cucu dari anak perempuan tidak terdaftar sebagai ahli waris.


👉Referensi : 


وقال الجمهور: للوصية أركان أربعة: موص، وموصى له، وموصى به، وصيغة. والصيغة تنعقد بالإيجاب من الموصي كقوله: أوصيت له بكذا أو ادفعوا إليه أو أعطوه بعد موتي، والقبول من الموصى له المعين، ولا يصح قبول ولا رد في حياة الموصي، ولا يشترط الفور في القبول بعد الموت. وإن كانت الوصية لجهة عامة كمسجد أو لغير معين كالفقراء، فإنها تلزم بالموت بلا قبول.


Jumhur ulama mengatakan, ada 4 rukun wasiat, yaitu :

1. Mushii (pihak pembuat wasiat)

2. Mushaa lah (penerima wasiat),

3. Mushaa bih (Sesuatu/barang yang diwasiatkan)

4. Shighat (ucapan serah terima). 


Shigat terjadi dengan adanya ijab dari mushii, misalnya : "Aku berwasiat untuk Fulan akan sesuatu ini atau "Berikanlah kepadanya sesuatu ini sepeninggalku." 

Sedang qabul berasal dari pihak mushaa lah yang sudah jelas/ditentukan. 


Menerima atau menolak wasiat tidaklah sah bila dilakukan sebelum mushii meninggal, dan qabul tidak disyaratkan harus dilakukan secara langsung setelah meninggalnya mushii. 

Jika wasiat diberikan kepada lembaga umum seperti masjid atau diberikan kepada mushaa lah yang tidak dijelaskan atau tidak tentu seperti wasiat untuk orang-orang fakir; maka wasiat menjadi berlaku dengan meninggalnya mushii, dan dalam wasiat seperti ini tidaklah dibutuhkan Qabul. 

(Alfiqhul lslam wa Adillatuhu VIIl  / 14) 


أما العبارة:

فلا خلاف بين الفقهاء في انعقاد الوصية باللفظ الصريح مثل: أوصيت لفلان بكذا، وغير الصريح الذي يفهم منه الوصية بالقرينة، مثل جعلت له بعد موتي كذا، أو اشهدوا أني أوصيت لفلان بكذا. والقبول كما عرفنا يكون عند الجمهور غير الحنفية بعد الموت، فلا عبرة به في حياة الموصي. وإذا مات الموصى له، قام وارثه مقامه بالقبول. ويصح عند الحنفية قبل الموت. ويكون القبول من الموصى له إذا كان بالغاً رشيداً، فإن لم يكن كذلك، قبل وليه عنه. وإذا كان الموصى له غير معين كالوصية للمسجد أو للفقراء والمساكين، لزمت الوصية بمجرد موت الموصي، بدون قبول، لتعذره في هذه الحالة. ولناقص الأهلية كالمميز والمحجور عليه لسفه أو غفلة قبول الوصية عند الحنفية.

وأما الكتابة:

فلا خلاف أيضاً في أن الوصية تنعقد بها إذا صدرت من عاجز عن النطق، كالأخرس، ومثله عند الحنفية والحنابلة معتقل اللسان إذا امتدت عقلته، أو صار ميؤوساً من قدرته على النطق. أما عند الشافعية فتصح وصية معتقل اللسان مطلقاً كالأخرس بالكتابة أو الإشارة كالبيع، وهذا هو المأخوذ به قانوناً. وتنعقد الوصية بالكتابة من قادر على النطق إذا ثبت أنه خط الموصي بإقرار وارث، أو بيِّنة تشهد أنه خطه، وإن طال الزمن. هذا هو الراجح لدى الحنابلة، وقال الحنفية والمالكية: إذا كتب الشخص وصيته بيده، ثم أشهد، فقال: اشهدوا على ما في هذا الكتاب، جاز. وقال الشافعية: الكتابة كناية، أي تنعقد الوصية بها مع النية، كالبيع، واشترطوا لإثبات الكتابة بالشهادة أن يُطْلع الموصي الشهود على ما في كتابه، فإن لم يطلعهم على ما في كتابه، لم تنعقد وصيته. والدليل على جواز الاكتفاء بالكتابة: أن الكتابة لا تقل في بيان المراد عن العبارة، بل هي أقوى منها عند الحاجة إلى الإثبات.


Wasiat berbentuk ungkapan: 

Para ulama fiqih tidak memperselisihkan terbentuknya wasiat dengan menggunakan kata-kata yang terang-terangan, seperti : "Aku berwasiat untuk Fulan sesuatu ini," dan juga kata-kata yang tidak terang-terangan, namun memiliki indikasi yang memberikan pemahaman ke arah wasiat, seperti, 'Aku menjadikan sesuatu ini untuk Fulan sepeninggalku nanti," atau, "Persaksikanlah bahwa aku berwasiat untuk Fulan sesuatu ini." 


Seperti yang kita ketahui menurut jumhur ulama selain golongan Hanafiyyah, qabul dilakukan setelah meninggalnya mushii, maka qabul yang dilakukan semasa mushii masih hidup tidaklah dianggap. Sedangkan hal ini sah-sah saja menurut golongan Hanafiyyah. Qabul dilakukan oleh mushaa lah yang sudah baligh dan sudah pintar mengurus harta. Jadi, jika mushaa lah belum baligh dan belum bisa mengurus harta benda, maka yang melakukan qabul adalah wali mereka. Apabila mushaa lah adalah tidak tentu, seperti wasiat untuk masjid, orang-orang fakir atau orang orang miskin, maka wasiat sudah menjadi tetap hanya dengan meninggalnya mushii, tanpa qabul, karena dalam kasus seperti ini, qabul sulit dilakukan. 

Orang yang kompetensinya untuk menerima wasiat masih kurang atau belum sempurna, seperti anak yang baru tamyiz dan mahjuur' alaih disebabkan idiot atau pelupa; mereka ini menurut golongan Hanafiyyah bisa melakukan qabul. 


Wasiat Berbentuk Tulisan: 

Tidak diperselisihkan juga, bahwa wasiat terbentuk dengan menggunakan tulisan, yakni jika dibuat oleh orang yang tidak bisa berbicara, misalnya orang bisu. 

Golongan Hanafiyyah dan Hanabilah menyamakan orang yang tertahan lisannya dengan orang yang bisu, apabila berkepanjangan atau dia menjadi orang yang sudah tidak bisa berharap lagi akan mampu berbicara. 

Menurut golongan Syafi'iyyah, wasiat orang yang tertahan lisannya secara mutlak dengan menggunakan tulisan sah seperti halnya orang yang bisu, atau dengan menggunakan isyarat seperti jual beli. Pendapat ini digunakan dalam perundangan. 


Wasiat dengan menggunakan tulisan juga bisa dilakukan oleh orang yang bisa berbicara, dengan syarat ada pengakuan dari ahli waris atau saksi yang memberikan kesaksian bahwa tulisan tersebut memang tulisan mushii, meski masanya sudah lama. 


Demikianlah pendapat rajih menurut golongan Hanabilah, sedang golongan Hanafiyyah dan Malikiyyah mengatakan, jika seseorang menulis wasiat dengan tangannya, lalu dia mengangkat saksi dan berkata, "Persaksikanlah apa yang ada dalam tulisan ini. 

hal ini boleh. 


ulama Syafi'iyyah mengatakan : 

"Tulisan adalah kinayah (sindiran), maka wasiat bisa terbentuk melalui tulisan apabila disertai dengan niat, seperti halnya jual beli. 

Madzhab ini memberikan syarat berlakunya wasiat apabila ada kesaksian, yakni si mushii memperlihatkan apa yang terkandung dalam tulisan kepada para saksi. Maka jika mereka tidak melihatnya, wasiat tidaklah berlaku. Dalil diperbolehkannya mencukupkan wasiat dengan tulisan: tulisan tidak lebih minim dalam memberikan penjelasan akan sesuatu yang dikehendaki daripada pengungkapan. Bahkan, tulisan bisa lebih kuat kala dibutuhkan penetapan atau penguatan.

(Alfiqhul lslam wa Adillatuhu VIIl /  16-17)


👉Referensi:

الوصية لوارث. 

نفذت الوصية، فتكون الوصية للوارث موقوفة على إجازة بقية الورثة، لقوله صلّى الله عليه وسلم: «إن الله قد أعطى كل ذي حق حقه، فلا وصية لوارث»  وقوله أيضاً: «لا تجوز وصية لوارث، إلا أن يشاء الورثة» «لا وصية لوارث إلا أن يجيز الورثة» ، ولأن في إيثار بعض الورثة من غير رضا الآخرين ما يؤدي إلى الشقاق والنزاع، وقطع الرحم وإثارة البغضاء والحسد بين الورثة. ومعنى الأحاديث أن الوصية للوارث لا تنفذ مطلقاً، مهما كان مقدار الموصى به، إلا بإجازة الورثة، فإن أجازوها نفذت، وإلا بطلت، وإن أجازها بعضهم دون بعض، جازت في حصة المجيز، وبطلت في حق من لم يجز، لولاية المجيز على نفسه دون غيره. وهذا شرط لنفاذ الوصية عند الجمهور، فإنهم قرروا أن الوصية صحيحة لكن لا تجوز الوصية لوارث ولا تنفذ إذا لم يجزها الورثة. وقال المالكية: الوصية باطلة لحديث «لا وصية لوارث» فإن أجاز الورثة ما أوصي به للوارث أو الزائد على الثلث، فعطية مبتدأة منهم، لا تنفيذ لوصية الموصي.


Wasiat untuk ahli waris. 

syarat dilaksanakannya wasiat adalah musha lah bukan ahli waris mushii ketika mushii wafat. Jika masih ada ahli waris lainnya maka wasiat tidak diperbolehkan. Jika ahli waris lainnya mengizinkan maka wasiat bisa dilaksanakan. 


Jadi, wasiat yang diberikan untuk ahli waris ditangguhkan hingga ada izin dari para ahli waris lainnya, karena Rasulullah  bersabda : 

Sesungguhnya Allah telah memberi setiap pemilik hak akan haknya, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris. 

Juga sabda Nabi : 

Tidaklah diperbolehkan wasiat untuk ahli waris, kecuali jika ahli waris-ahli waris lainnya menghendaki."

Juga sabda Nabi : 

"Tidak ada wasiat untuk ahli waris kecuali ahli waris-ahli waris (Iainnya) membolehkannya. 


Juga karena dengan mengutamakan salah satu ahli waris tanpa kerelaan dari ahli waris lainnya adalah sesuatu yang bisa menyebabkan perpecahan dan pertikaian, terputusnya hubungan rahim atau antar saudara, serta bisa mengobarkan rasa benci dan hasud antar sesama ahli waris. 

Arti hadits-hadits di atas adalah bahwa wasiat untuk ahli waris tidak bisa dilaksanakan secara mutlak berapa pun ukuran mushaa bih-nya kecuali dengan seizin Para ahli waris lainnya. 


Jika mereka meluluskannya maka wasiat dilaksanakan; dan jika tidak maka wasiat menjadi batal. 

jika sebagian mereka meluluskan sedang sebagian yang lain tidak meluluskan maka wasiat dilaksanakan untuk bagian yang diluluskan, dan batal untuk hak orang yang tidak meluluskannya, karena kekuasaan orang-orang yang meluluskan atas dirinya, bukan orang lain. 

Demikianlah syarat dilaksanakannya wasiat menurut jumhur ulama. 

Mereka ini menetapkan bahwa wasiat sah, namun tidak boleh diberikan kepada ahli waris. Wasiat tersebut tidak dilaksanakan melainkan jika ahli waris yang lain mengizinkan. 


Ulama Malikiyyah mengatakan, wasiat tersebut batal karena hadits, "Tidak ada wasiat bagi ahli warisi' maka jika ahli waris yang lain mengizinkan atau meluluskan apa yang diwasiatkan untuk si ahli waris tersebut atau meluluskan kelebihan dari sepertiga, pemberian ini merupakan pemberian baru dari para ahli waris lain, bukan sebagai pelaksanaan wasiat mushii.

(Alfiqhul lslam wa Adillatuhu Vlll /  41)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url